Menjadi Indonesia

[Karena] dalam buku ini Pengembangan Kebangsaan Indonesia dilihat sebagai “proses pengelolaan masyarakat”, maka dipilihlah sebagai judul utamanya: “Menjadi Indonesia”.

Diharapkan, kata menjadi pada judul itu bisa dirasakan sebagai penggambaran dari proses yang dinamis “pengembangan kebangsaan Indonesia” yang dalam buku ini ditangkap sebagai proses pengelolaan masyarakat, suatu proses sosial.

(Menjadi Indonesia, Parakitri T. Simbolon, Kompas 1995)

AMI 2009–2026

Bermula dari Aliansi Menjadi Indonesia, 2009

Perkumpulan Aliansi Menjadi Indonesia (AMI) bersifat ikatan yang lepas yang dipandu oleh tujuan bersama. Didirikan oleh Monica Tanuhandaru, Mardiyah Chamim, Eko Komara, dan Sugeng Wibowo pada 17 Agustus 2009 dengan akta pendirian dibuat di hadapan Notaris Rita Riana Hutapea, S.H. pada 4 September 2009. Sejak berdirinya, AMI tidak berhasil mendapatkan pengesahan dari Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum dan HAM, karena penolakan terhadap nama “Menjadi Indonesia”.

AMI digagas untuk tujuan menumbuhkan kekuatan bersama serta menggalang sumber daya dan partisipasi masyarakat secara luas dalam pengembangan wawasan kebangsaan Indonesia, sekaligus mengembangkan gagasan, sikap kritis, dan inisiatif berwawasan kebangsaan.

Pada pertengahan 2026 gagasan lama AMI menemukan momentumnya kembali, para pendiri AMI bersepakat untuk membangun sebuah yayasan yang dinamakan Asa Menjadi Indonesia (tetap AMI).

Pergantian nama kali ini diharapkan dapat meloloskan proses legalisasi dan administrasi, sehingga AMI dapat berfungsi dan beroperasi sesuai dengan mandat yang diembannya.

Visi AMI adalah terwujudnya Ruang pengembangan kebangsaan Indonesia yang terbuka, dinamis dan inklusif. Proses pengembangan kebangsaan Indonesia adalah upaya jangka panjang untuk membentuk, merawat, dan memperbarui terus menerus kesadaran bersama bahwa masyarakat Indonesia yang beragam berada di dalam satu sistem tata negara dan terikat pada satu nasib kolektif serta satu tanggung jawab bersama sebagai sebuah bangsa.

Misi AMI adalah mendorong tumbuhnya ruang pengembangan kebangsaan Indonesia melalui kajian dan dialog kritis, pendidikan kewargaan, penguatan kemandirian lokal, dan pemajuan kebudayaan; yang didukung oleh upaya mobilisasi dan pengelolaan sumber daya, serta pengembangan kemitraan dan kolaborasi seluas-luasnya.

Monica Tanuhandaru
Mardiyah Chamim
Alamsyah Saragih
Tino Yosepyn
Eko Komara
Danardono Siradjudin
Ikhwanul Huda
Dwi Premadha Lestari

Untuk menyalakan kembali cita-cita AMI, para pendiri menggandeng sejumlah figur yang sejalan dengan visi AMI.

Pembina dijabat oleh Monica Tanuhandaru, Mardiyah Chamim, Alamsyah Saragih, dan Tino Yosepyn. Eko Komara berperan sebagai Pengawas.

Sedangkan operasional harian dipimpin oleh Danardono Siradjudin sebagai Ketua, bersama Ikhwanul Huda sebagai Sekretaris dan Dwi Premadha Lestari sebagai Bendahara.

Untuk menyalakan kembali cita-cita AMI, para pendiri menggandeng sejumlah figur yang sejalan dengan visi AMI.

Pembina dijabat oleh Monica Tanuhandaru, Mardiyah Chamim, Alamsyah Saragih, Rezal Kusumaatmaja, dan Tino Yosepyn. Eko Komara berperan sebagai Pengawas.

Sedangkan operasional harian dipimpin oleh Danardono Siradjudin sebagai Ketua, Bersama Ikhwanul Huda sebagai Sekretaris dan Dwi Premadha Lestari sebagai Bendahara.